image
By On Kamis, April 13 th, 2017 · no Comments · In

Teruntuk saudara/i ku, adik-adikku dan kakak-kakakku yang selangkah dan sepemahaman dalam perjuangan da’wah, saya hendak menyampaikan curahan hati terkait apa yang terjadi di sekitar kita saat ini.

Sungguh miris hati ini saat beberapa pesan pribadi masuk ke saya melalui WA, LINE dan SMS dari adik-adik kita yang tengah “berhijrah” dari masa kelamnya menuju jalan penuh cahaya, mereka mengungkapkan kegundahan dan kebingungannya setelah memperhatikan apa yang terjadi di tengah umat saat ini. Mereka tidak tahu kemana mereka harus melangkah untuk menuju cahaya itu bahkan sebagiannya ragu dengan langkahnya untuk menuju cahaya, dikarenakan mereka melihat oknum “tokoh-tokoh” terhormat agama ini yang saling sibuk menjatuhkan, merendahkan, memvonis, saudaranya yang lain.

Saya tak bermaksud mengajak pembaca tulisan ini untuk mencari kambing hitam dari ini semua, tapi sungguh saya berharap dan mengajak saudara/i ku sekalian untuk mampu mengendalikan diri agar kita tak termasuk orang-orang yang menjadikan saudara/i kita tersebut bingung.

Hindari share atau posting hal-hal yang berkaitan dengan
khilafiyah atau perbedaan pandangan, tafsiran, interpretasi yang bertujuan merendahkan saudara kita yang lain sesama muslim, jika berniat meluruskan maka gunakan bahasa yang santun agar tetap elok dibaca oleh siapa saja, tak perlu memperkeruh keadaan dengan komentar-komentar emosional kita yang kasar dan tidak berdasar, jadilah yang terdepan saat saudara/i kita membutuhkan bantuan, pertajam kepekaan dengan orang-orang di sekitar kita dan jangan menshare sesuatu yang kita sendiri belum tahu tentang kebenarannya.

Berkatalah dan tulislah sesuatu, sekiranya memang wajib bagi kita untuk merespon, lalu sampaikan yang baik dan bermanfaat. Jika tidak bisa, maka diam adalah sikap terbaik dan selamat. Jika kita tak bisa mendampingi mereka yang hendak “berhijrah”, minimal jangan menjadi orang yang menghentikan langkah mereka menuju perbaikan dan kebaikan dengan sikap egois kita, sok tau kita, dan merasa paling benar.

Rasanya inilah momen dimana kita memang harus BERGERAK agar kita tidak dianggap acuh oleh Allah terhadap keadaan saudara-saudara kita dan cuek dengan keadaan umat Rasulullah atau sebaiknya kita DIAM agar tidak semakin menimbulkan kekacuan dan kebingungan di tengah umat sekiranya kita “memaksa” berbicara.

Terakhir, saya teringat pesan istri, ”Mas, bicara seperlunya saja dan tidak perlu banyak bercanda, karena semua itu menguras energi.” Ya, kita sedang membutuhkan banyak energi untuk menebar kebaikan di tengah umat, jangan sampai kita menghabiskan energi kita untuk kesia-siaan apalagi untuk sesuatu yang membinasakan dan merugikan.

Kiranya sudah saatnya kita “merendah” untuk sebuah “maslahah”….