image
By On Senin, Agustus 07 th, 2017 · no Comments · In

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia, sehingga tidak tidak sulit menemukan masjid di berbagai daerah di Indonesia, bahkan satu desa pun kadang memiliki lebih dari satu masjid, subhanallah. Masjid pertama yang dibangun di Indonesia yaitu Masjid Saka Tunggal Banyumas tahun 1228. Tentu sudah sangat lama sekali keberadaan masjid di Indonesia.  Sejarah berdirinya masjid kampung dan masjid kampus di Indonesia pun menjadi hal yang menarik untuk diteliti sebagai tonggak sejarah peradaban Islam di Indonesia. Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan masjid kampus pertama di Indonesia yang dibangun tahun 1963 dan menjadi pelopor berdirinya masjid-masjid kampus di seluruh Indonesia. Pemberian nama masjid Salman ini diberikan oleh Presiden pertama Indonesia yaitu Ir.Soekarno saat bertanya kepada Menteri Agama siapa nama sahabat yang menggali parit saat Perang Khandaq, beliau pun menjawab Salman. Pembangunan Masjid Saman ITB yang merupakan penancap peradaban Islam di dunia Perguruan Tinggi ini bermula di tahun 1960-an. Saat itu budaya Barat cukup kuat mempengaruhi banyak pemuda di Indonesia, termasuk di ITB. Sehingga ketika ada laki-laki yang meminta izin untuk Sholat Jum’at di tengah perkuliahan dianggap ganjil, adapula saat dimana laki-laki yang memakai sarung malah dibilang “Wah arab, nih.”, selain itu celotehan “Eh kamu mau sholat, titip salam ke Tuhan ya!” menjadi sesuatu hal yang lumrah dan Aula Barat pun cukup sering dipakai untuk kegiatan berdansa-dansi. Bahkan, untuk sholat Jum’at saja mahasiswa ITB harus bersusah payah berjalan kaki dari ITB ke Masjid Cihampelas.

Kini Masjid Salman ITB menjadi masjid kampus yang indah dan memberikan nuansa keislaman di ‘kampus umum’ dan menjadi rujukan dari masjid-masjid di Indonesia untuk membangun sistem peradaban Islam. Masjid Salman memiliki banyak bidang, diantaranya Bidang Pengkajian dan Penerbitan, Bidang Pelayanan dan Pemberdayaan, Bidang Dakwah, Bidang Mahasiswa dan Kaderisasi, Lembaga Pengembangan Pendidikan, dan Rumah Amal. Masjid Salman juga menyelenggarakan training dakwah bernama Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang diikuti oleh seluruh para aktivis Islam di Indonesia. LMD ini digagas oleh Dr.Ir.M.Imamuddin Abdurrahim sejak tahun 1974. Masjid Salman ITB juga menerbitkan Tafsir Salman pada tahun 2014, tafsir AlQur’an  ini disusun oleh Dewan Pembina Masjid Salman ITB yang digagas oleh Bapak Irfan Anshhory, almarhum merupakan seorang Dosen Kimia ITB yang juga aktivis Islam di ITB. Masjid Salman mengumpulkan 26 dosen ITB yang merupakan pakar di bidangnya dari berbagai jurusan untuk menggali makna ilmiah dalam ayat suci Al-Qur’an. Tafsir ini fokus pada juz 30. Misalnya pada surat An-Naba ada ayat “… Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak.” Ayat ini kemudian dijelaskan oleh Profesor Geologi tentang pergerakan lempeng bumi, dimana benua-benua itu sebenarnya merupakan suatu lempeng. Lempeng-lempeng ini ternyata tidak diam, tapi terus bergerak. Sehingga susunan benua-benua itu tidak akan terus sama, tapi akan berubah seiring pergerakan lempeng bumi.  Kebesaran nama Masjid Salman ITB pun semakin tersohor, diantaranya dengan munculnya sosok Muzammil Hasballah, ST sebagai imam muda bersuara merdu Masjid Salman yang juga merupakan alumni yang sebelumnya adalah mahasiswa Arsitektur ITB angkatan 2011 dan juga Ustadz Tengku Hanan Attaki, Lc yang saat ini dikenal pendiri Shift Gerakan Pemuda Hijrah, merupakan alumni Universitas Al-Azhar, Mesir yang juga aktif sebagai direktur Rumah Qur’an Masjid Salman ITB. Kedua tokoh ini bisa dengan mudah ditemukan videonya di Youtube, Muzammil Hasballah yang dikenal dengan tilawah AlQur’annya yang merdu dan Ustadz Tengku Hanan Attaki melalui ceramah-ceramahnya yang mudah diterima para pemuda yang belum mengenal Islam dan ingin berhijrah. Universitas Airlangga sebagai Perguruan Tinggi peringkat keempat Nasional ini harus bersyukur memiliki dua Masjid Kampus yaitu Masjid Nuruzzaman dan Masjid Ulul Azmi. Dengan hadirnya dua masjid kampus ini nuansa keislaman di kampus akan terus tumbuh dan menjadi wadah mahasiswa, dosen, dan karyawan untuk belajar Islam di Universitas Airlangga yang digagas oleh takmir masjid dan mahasiswa. Organisasi keislaman di Universitas Airlangga juga memberikan kontribusi dalam memakmurkan masjid dan
mengadakan kegiatan keislaman diantaranya UKM Kerohanian Islam, UKM Seni Religi, UKM Tahfidzul Qur’an, Mahasiswa Masjid Ulul Azmi, Association of Sharia Economic Studies (AcSES), Lembaga Dakwah Kampus PSDKU UNAIR, dan 14 SKI Fakultas. Semoga dengan adanya fasilitas kemudahan belajar Islam di Unversitas Airlangga ini menjadikan mahasiswa semakin semangat untuk menuntut ilmu agama yang hukumnya wajib, sehingga tidak hanya menuntut ilmu umum yang dipelajari di Fakultas. Keberhasilan Masjid Salman ITB dalam membangun peradaban Islam juga harus menjadi semangat tersendiri bagi masjid kampus di Universitas Airlangga untuk saling ber fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan untuk membangun peradaban Islam di Universitas Airlangga sesuai dengan slogan Excellent with Morality. (Diolah dari berbagai sumber)

* Ahmad Afifuddin Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Airlangga  Kepala BSO Kemakmuran Masjid UKM Kerohanian Islam UNAIR