image
By On Senin, Juli 24 th, 2017 · no Comments · In

Menengok keberhasilan para ulama’ dalam mewariskan Islam kepada kita adalah hal yang sangat penting, karena terbukti bahwa mereka adalah pewaris sejati da’wah Rasulullah SAW. Sebaliknya merupakan sikap yang tidak bijak jika kita meninggalkan nama harum mereka dalam literatur berdebu.
Jika kita melihat peradaban sebelum Islam, maka peninggalan menomental umat terdahulu adalah bangunan hasil karya umat kala itu, sebut saja pyramid, istana kaum ‘aad dan tsamud, dan sebagainya. Hal ini berbeda dengan warisan da’wah era Rasulullah SAW, beliau dan para sahabat meninggalkan masjid sederhana yang dikenal dengan nama masjid Quba dan masjid Nabawi yang secara fisik kala itu berdiri dengan sederhana namun masjid tersebut menjadi pemancar siar warisan utama beliau berupa ilmu yang terus menyebar sampai saat ini ke penjuru dunia. Hal ini sesuai dengan sabda beliau,”para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham tetapi mewariskan ilmu..”.
Hal tersebut dilanjutkan oleh para ulama’ yang tidak lain merupakan pewaris perjuangan Rasulullah SAW termasuk para penyebar dan peneguh Islam di Nusantara dimana mereka memberikan atsar (jejak) yang sangat berharga bagi generasi sesudahnya. Mereka tidak sekedar terdepan dalam keilmuan tetapi mereka mewariskan peradaban berbasis semangat keilmuan yang mereka kuasai tersebut. Sebut saja Syekh Yusuf Al Makassari, beliau merupakan ulama’ sufi dari Makasar bertarekat Khalwatiyyah yang mana kiprah beliau sangatlah ditakuti oleh Belanda kala itu saat menjajah Indonesia hingga beliau diasingkan ke Afrika Selatan dan menjadi penyebar Islam di sana., meski demikian Belanda terus merasakan kekhawatiran dengan pengaruh beliau.
Belum lagi ulama’ Nusantara lain yang mana karya mereka menjadi rujukan dunia Islam sampai saat ini seperti Syekh Nawawi Al Bantani yang terkenal dengan karya beliau Tafsir Maroh Labiid, Nashoihul ‘Ibad serta tidak kurang 37 karya lainnya, Syekh Yasin Al Fadani yang dikenal dengan musnaduddunya, Syekh Arsyad Al Banjari yang dikenal sebagai ahli fiqih dan falah dengan kitab beliau berjudul Sabilal Muhtadiin, Syekh Mahfudz Attermasi yang sangat menguasai bidang hadits dan terkenal dengan karya beliau berjudul Kifayat al Mustafid, Syekh Abdul Rouf Assinkili yang dikenal warga Aceh dengan sebutan Syiah Kuala dengan karya berharga beliau berjudul Turjuman al Mustafid yang merupakan mushaf terjemah pertama dalam bahasa melayu serta para ulama’ lainnya yang mengemilaukan “monumen” yang mereka dirikan sebagai warisan bagi umat.
Maka mengenal ulama’ dan mengakui jasa mereka adalah langkah awal yang tepat bagi kita dalam membangun peradaban yang gemilang berbasis ilmu dan nilai-nilai berketuhanan, sekaligus menjadi tolok ukur kontribusi kita terhadap kehidupan beragama dan berbangsa. Kita tentu juga tidak boleh melupakan basis gerakan para ulama’ tersebut yakni mengoptimalkan masjid sebagai pusat peradaban umat yang meliputi pusat pendidikan, perekonomian, sosial kemasyarakatan, politik, dan berbagai aktivitas kebaikan. Maka demikian pula dengan keberadaan masjid kampus, harus benar-benar bisa dimanfaatkan secara optimal sebagai pusat kegiatan keagamaan yang berbasis keilmuan dan memberdayakan mahasiswa dengan berbagai kegiatan bernilai positif sehingga masjid tidak sekedar sebagai tempat kegiatan ritual yang hening saat waktu sholat telah berlalu.
Jika ini terwujud maka semakin memantapkan slogan kampus kita “Excellence with Morality”.
Oleh: Afri Andiarto, S.M. (Pembina Remas Ulul ‘Azmi)