image
By On Rabu, Mei 03 rd, 2017 · no Comments · In

Oleh : HABIB UBAIDILLAH AL HABSY

What is isra’ mi’raj ?
Terdapat kejadian yang dapat meyakinkan bahwa Rasulullah Muhammad adalah manusia luar biasa. Kejadian ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak kejadian yang membuktikan bahwa Nabi Muhammad bukan manusia biasa. Yakni Isra’ wal mi’raj. Banyak sekali pujian dari Allah kepada Nabi Muhammad di dalam Al-Qur’an . Siapa Allah? Pencipta Nabi Muhammad. Kalau sudah Allah yang memuji beliau, pujian apa yang tidak berkah bagi Muhammad SAW. Oleh karena itu, seperti yang kita tahu bahwa Allah saja memujinya? Lantas mengapa kita umatnya tak juga memuji beliau?

Isra’ wal Mi’raj sebuah kejadian spektakuler, kejadian hebat, dan tidak akan terjadi kedua kalinya, serta hanya dialami oleh manusia yang sangat hebat, siapakah beliau? Beliau Rasulullah Muhammad SAW tidak ada yang dapat melakukan isra’ wal mi’raj, sekalipun malaikat Jibril yang sebagai jendral para malaikat, ketika berada di sidratul muntaha. Rosulullah mengajak Jibril masuk ke Arsy, “ Hai jibril temani saya masuk ke Arsy, temani saya menghadap Allah” jibril berkata wamaa minha illa walahuu maqoma’luum, tidak ada diantara kita Ya Rosulallah kecuali memiliki kedudukan masing-masing. Demi Allah kalau saya maju selangkah saja saya akan terbakar oleh cahaya Allah SWT. Padahal yang kita ketahui Jibril seorang malaikat, pemimpin para malaikat yang terbuat dari cahaya, namun ia tak mampu menghadap cahaya Allah. Sedangkan, nabi Muhammad manusia terdiri dari daging, tulang, darah, seperti kita, tapi mampu menghadapi cahaya Allah SWT. Masihkah ada yang menganggap bahwa muhammad itu manusia biasa? Tak perlu diutus dan tak perlu dipuji berlebihan. Masihkah ?

Ingat Islam bukan hanya menuju pada hal yang dapat dicerna oleh akal manusia, namun juga pada hal yang harus diterima oleh iman, serta pada hal yang sulit dicerna oleh akal dan logika. Kita sebagai Ahlussunnah wal jama’ah sepatutnya menunjukkan rasa syukur kita atas kejadian luar biasa tersebut seperti peringatan acara isra’ wal mi’raj, untuk menunjukkan rasa kebahagiaan luar biasa pada malam perjalanan Nabi Muhammad menghadap Allah, gembira dengan kelahiran beliau, dan peristiwa-peristiwa tersebut tidak diragukan lagi karena ketika kita teladani peristiwa tersebut dapat membawa berkah bagi umat Nabi Muhammad SAW.

Isra’ wal mi’raj suatu kejadian yg tidak diminta oleh Nabi. Namun, semua itu karena kehendak Allah. Nabi usa naik dengan susah payah ke bukit tursina, kemudian mohon agar bisa memandang Allah, “ya Allah izinkan aku memandangmu” Allah menjawab “ tidak , sampai kapanpun wahai musa kamu tidak akan dapat melihat aku”. Dan bukan hanya itu, malaikat Jibril saja yang terbuat dari cahaya ia tidak dapat menembus dan menghadapi cahaya Allah, ia hanya dapat menembus biasan cahaya, sedangkan nabi muhammad saat diberangkatkan dalam keadaan tertidur, dijemput malaikat Jibril untuk bertemu dengan Allah langsung, dan dalam surat An-Najm pada malam itu, faauhaa ilaa abdihi maa auha, maa kadzabal fu’adu maa roaa, afa tumaaruunahu ‘alaa maa yaroo, walaqod ro’aahu nazlatan ukhro, tidak ada sanubari siapapun yang bisa mendustakan apa yang telah dilihat Nabi, yaitu Allah, tidak hanya sekali ia memindangkan namun berkali kali. Jangan kita tanya bagaimana caranya, kita pikir sampai rambut habis pun tidak akan menemukan jawabannya, Why? karena itu semua adalah atas keinginan Allah. “Idzaa arooda syai’an ayyaqula lahu kunfayakuun” jika Allah menghendaki sesuatu, dan berkata jadilah, maka jadilah sesuatu itu, sekalipun itu tidak dapat diterima oleh akal. Allah membuat rosulullah dapat bertemu denganNya , dapat berbincang-bincang denganNya. Dekatnya Rosulullah pada malam itu sekitar dua busur panah atau lebih dekat lagi falaana qooba qousaini au adnaa. Untuk apa sih mereka bertemu? Tujuan utama nya ialah untuk menerima perintah sholat, dengan perjalanan bermilyar kilometer bolak-balik menghadap Allah sampai pada 17 Rakaat dalam 5 waktu.

Seperti yang kita ketahui bahwa Rosulullah merupakan orang yang paling takut pada Allah daripada kalian, dan aku adalah orang yang paling bertaqwa pada Allah dibandingkan kalian, Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang tidak menyukai sunnahku maka bukan termasuk golonganku”. Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa Rasulullah adalah manusia paling takut pada Allah. Namun, mengapa pada malam isra’ wal mi’raj Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaranNya pada Muhammad? Karena tanpa adanya kejadian itu sebenarnya Rasulullah sudah pasti Bertaqwa kepada Allah, namun bukan itu, alasanya ialah manusia sewajarnya jika ditunjukkan tanda-tanda kebesaran oleh Allah maka dia akan bertambah taqwa nya pada Allah, semakin kuat, takut dan yakin pada Allah SWT. Wa ammaman khoofa maqoo ma robbihi jannatan. Orang yang takut pada Allah akan diberi dua surga, yaitu surga dunia dan akhirat. Oleh karena itu Allah menunjukkan kejadian ini pada Nabi Muhammad, agar umatnya senantiasa bertaqwa pada Allah, takut pada Allah dan itu adalah kewajiban kita sebagai hamba Allah. Namun, pada kenyataanya hal tersebut semakin terkikis di zaman kita, oleh karena itu kita sangat perlu mengingat dan meneladani serta meresapi perjalanan Isra’ wal mi’raj Nabi Muhammad SAW. Agar iman kita semakin kuat, semakin bertaqwa, dan menambah kedekatan kita pada Allah melalui Sholat, dan ibadah-ibadah lainnya, karena orang uang takut pada Allah mereka ketika mendengar adzan akan segera menuju sholat karena takut maut lebih dulu dari sholatnya, dan dari mengingat peristiwa isra’ wal mi’raj kita dapat semakin mencintai Rosulullah SAW.

Karena di akhirat nanti seluruh amal perbuatan kita akan ditimbang oleh Allah, dan di sini kita harus menambah perbuatan-perbuatan yang dapat menambah timbangan kita diantaranya ialah sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Rosulullah berkata : jika nanti di hari kiamat, aku akan menunggu umatku di tiga tempat yang pertama di Telaga, yang kedua Shirothol Mustaqiim, dan yang ketiga Rosulullah menunggu umatnya di Mizan ( timbangan ) akan ada nanti diantara umatku yang timbangan kebaikannya lebih ringan dibanding timbangan kemaksiatan, maka kelak aku akan masukkan secarik kertas di timbangan kebaikan tersebut dan membuat timbangan kebaikan tersebut berbalik lebih berat dibanding timbangan kemaksiatan. Lalu jika kalian bertanya “Ya Rosulullah secarik kertas yang kau masukkan di timbangan kebaikan itu apa ya Rosul? Yang membuat amal baikku bertambah banyak sehingga aku masuk surga tanpa hisab” Rosul menjawab itu adalah Sholawat serta salam yang kau hadiahkan padaku saat kau hidup didunia.
Semoga kita dapat semakin menjadi hamba Allah yang dekat dengan RabbNya, serta mencintai Rasulnya.